Bahagia Itu Tidak Selalu Ramai
Bahagia Itu Tidak Selalu Ramai
Dulu...
Rumah terasa terlalu ramai.
Suara televisi bercampur dengan tawa.
Anak-anak berlarian dari satu ruangan ke ruangan lain.
Di meja makan, semua orang berbicara bersamaan.
Kadang kita bahkan berharap memiliki sedikit waktu untuk menikmati suasana yang lebih tenang.
Lalu tahun-tahun berlalu.
Anak-anak tumbuh dewasa.
Satu per satu mulai membangun kehidupannya sendiri.
Rumah yang dulu selalu penuh...
Perlahan mengenal arti sepi.
Kini...
Televisi menyala.
Bukan karena ada acara yang benar-benar ingin ditonton.
Melainkan karena rumah terasa terlalu sunyi jika tidak ada suara.
Sesekali terdengar motor berhenti di depan rumah.
Kita spontan menoleh ke arah pintu.
Berharap ada seseorang yang datang.
Ternyata hanya tetangga yang sedang mengantar paket.
Lalu kita kembali duduk.
Tersenyum kecil.
Dan melanjutkan sore seperti biasa.
Barangkali...
Begitulah kehidupan mengajarkan sesuatu.
Apa yang dulu kita anggap biasa...
Perlahan berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Suara langkah kaki di dalam rumah.
Obrolan sederhana saat makan malam.
Tawa yang memenuhi ruang tamu.
Hal-hal kecil yang dulu nyaris tidak pernah kita perhatikan.
Suatu sore...
Seseorang datang berkunjung.
Tidak membawa hadiah.
Tidak membawa kabar besar.
Mereka hanya duduk.
Minum teh bersama.
Berbicara tentang hal-hal sederhana.
Tentang cuaca.
Tentang tanaman di halaman.
Tentang cerita lama yang sudah berkali-kali diulang.
Ketika tamu itu pulang...
Rumah kembali sunyi.
Namun entah mengapa...
Hati terasa jauh lebih penuh.
Saat itulah kita mulai mengerti.
Bahagia ternyata tidak selalu hadir dalam perayaan yang besar.
Tidak selalu datang bersama banyak orang.
Kadang...
Ia hanya mampir sebentar.
Dalam percakapan yang tidak terburu-buru.
Dalam senyum yang tulus.
Dalam seseorang yang masih meluangkan waktu untuk mengetuk pintu rumah kita.
Semakin bertambah usia...
Kita perlahan berhenti mengejar hidup yang terlihat ramai.
Kita mulai menghargai hidup yang terasa damai.
Karena pada akhirnya...
Yang membuat hati merasa kaya...
Bukan seberapa penuh jadwal yang kita miliki.
Bukan seberapa banyak orang yang mengenal nama kita.
Melainkan masih adanya orang-orang...
Yang membuat kita merasa pulang.
Mungkin...
Bahagia memang tidak selalu datang dengan suara yang keras.
Sering kali...
Ia hadir begitu pelan.
Hingga kita baru menyadari keberadaannya...
Ketika sore itu telah berlalu.
Dan kita diam-diam berharap...
Semoga masih diberi kesempatan untuk mengalaminya sekali lagi.