Arti Sebuah Kebersamaan
Arti Sebuah Kebersamaan
Di ruang makan itu...
Ada satu kursi yang tidak pernah dipindahkan.
Posisinya tetap sama.
Menghadap ke meja yang sama.
Seolah-olah...
Masih menunggu seseorang datang dan duduk di sana.
Dulu...
Kursi itu hampir tidak pernah kosong.
Setiap malam...
Selalu ada yang menempatinya.
Kadang percakapan dimulai dari hal-hal sederhana.
Tentang pekerjaan.
Tentang sekolah.
Tentang harga cabai yang kembali naik.
Tentang acara televisi yang sedang ditonton.
Tidak ada pembicaraan yang luar biasa.
Tidak ada momen yang terasa bersejarah.
Hanya makan malam...
Seperti malam-malam sebelumnya.
Kadang sambil bercanda.
Kadang sambil saling diam.
Kadang masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Lalu semuanya selesai.
Piring dibereskan.
Lampu dimatikan.
Besok akan terulang lagi.
Setidaknya...
Begitulah yang dulu kami kira.
Namun waktu...
Tidak pernah membuat janji.
Sedikit demi sedikit...
Rumah mulai berubah.
Anak-anak tumbuh dewasa.
Kesibukan membawa langkah ke tempat yang berbeda.
Ada yang pulang sebulan sekali.
Ada yang hanya sempat menelepon.
Ada yang datang ketika hari raya.
Dan tanpa pernah ada kesepakatan...
Kursi itu mulai lebih sering kosong.
Tidak ada yang sengaja menghitungnya.
Tetapi semua orang menyadarinya.
Rumah masih sama.
Meja masih sama.
Masakan pun sering kali masih sama.
Hanya...
Tidak semua orang lagi duduk mengelilinginya.
Sesekali...
Semua kembali berkumpul.
Suasananya kembali ramai.
Cerita lama kembali diulang.
Tawa yang sama kembali terdengar.
Tidak ada yang terburu-buru bangun dari meja.
Seolah-olah...
Semua ingin duduk sedikit lebih lama.
Karena entah mengapa...
Pertemuan seperti itu...
Tidak lagi sesering dahulu.
Lalu malam berakhir.
Satu per satu pulang.
Rumah kembali sunyi.
Dan kursi itu...
Kembali kosong.
Baru belakangan kami mengerti...
Yang paling kami rindukan ternyata bukan masakan di atas meja.
Bukan rumahnya.
Bukan pula hari rayanya.
Yang paling kami rindukan...
Adalah saat semua orang masih bisa duduk bersama...
Tanpa harus mencocokkan jadwal.
Tanpa harus menghitung cuti.
Tanpa harus berkata,
"Maaf, kali ini aku belum bisa pulang."
Suatu hari nanti...
Mungkin kursi itu masih akan tetap berada di sana.
Diam.
Seperti hari ini.
Seperti bertahun-tahun yang lalu.
Yang berubah...
Hanyalah orang-orang yang pernah mengelilinginya.
Dan mungkin...
Baru saat melihat kursi yang kosong itu...
Kita benar-benar memahami...
Bahwa kebersamaan...
Tidak pernah terasa langka...
Ketika masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ia baru menjadi sangat berharga...
Setelah kita tidak lagi bisa mengumpulkan semua orang...
Di meja yang sama.