Ketika Uang Tidak Lagi Menjadi Jawaban

Ketika Uang Tidak Lagi Menjadi Jawaban
Setiap pagi...
Sebelum berangkat bekerja...
Ia selalu melihat ayahnya duduk di teras.
Dengan secangkir teh hangat.
Dan koran yang kadang hanya dibaca separuh.
"Ayo sarapan dulu."
Begitu suara ayah hampir setiap pagi.
Namun hampir selalu dijawab dengan kalimat yang sama.
"Nanti saja, Yah... sudah terlambat."
Lalu pintu ditutup.
Mobil melaju.
Hari dimulai.
Besoknya...
Hal yang sama kembali terulang.
Begitu juga minggu berikutnya.
Bulan berikutnya.
Tahun berikutnya.
Ia bekerja lebih keras.
Jabatan bertambah.
Penghasilan meningkat.
Rumah menjadi lebih besar.
Mobil berganti.
Tabungan perlahan bertambah.
Sesekali ia berkata kepada dirinya sendiri,
"Kalau semuanya sudah lebih tenang... nanti aku akan lebih banyak di rumah."
"Nanti."
Satu kata yang terasa begitu murah.
Karena kita selalu merasa...
Masih memilikinya dalam jumlah yang banyak.
Hingga suatu sore...
Telepon itu berbunyi.
Suara di seberang terdengar pelan.
"Ayah masuk rumah sakit."
Perjalanan yang biasanya terasa singkat...
Hari itu menjadi begitu panjang.
Sesampainya di sana...
Ia melihat ayahnya terbaring diam.
Wajah yang selama ini selalu tampak tenang...
Kini terlihat begitu lelah.
Ayah membuka mata perlahan.
Tersenyum kecil.
Lalu berkata lirih,
"Kamu pasti capek... baru pulang kerja."
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa...
Terasa jauh lebih berat daripada kesunyian di ruangan itu.
Ia menggenggam tangan ayahnya.
Baru kali itu ia menyadari...
Tangan yang dulu selalu menggandengnya menyeberang jalan...
Kini terasa jauh lebih ringan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup...
Ia berharap uang bisa melakukan sesuatu yang lebih.
Kalau saja uang bisa membeli satu sore lagi di teras rumah.
Kalau saja uang bisa mengulang sarapan yang selalu ia tunda.
Kalau saja uang bisa membuat waktu berhenti...
Sebentar saja.
Namun tidak.
Uang bisa membayar kamar rumah sakit.
Uang bisa menghadirkan dokter terbaik.
Uang bisa membeli obat.
Tetapi uang tidak pernah mampu membeli kesempatan...
Yang telah lewat.
Beberapa minggu kemudian...
Ia kembali ke rumah.
Teras itu masih ada.
Kursinya masih berada di tempat yang sama.
Cangkir teh masih tersimpan di dalam lemari.
Hanya saja...
Tidak ada lagi yang berkata,
"Ayo sarapan dulu."
Sejak hari itu...
Ia tetap bekerja.
Tetap menabung.
Tetap merencanakan masa depan.
Namun ada satu hal yang berubah.
Ia tidak lagi percaya...
Bahwa semua hal bisa ditunda.
Karena ada pertemuan yang hanya datang sekali.
Ada percakapan yang tidak pernah sempat terulang.
Ada pelukan...
Yang tanpa kita sadari...
Ternyata adalah pelukan yang terakhir.
Mungkin...
Bukan karena uang tidak penting.
Uang membuat hidup menjadi lebih tenang.
Memberi rasa aman.
Membuka banyak pilihan.
Tetapi kehidupan...
Diam-diam selalu mengingatkan...
Bahwa akan datang satu masa...
Ketika yang paling kita cari...
Bukan lagi tambahan penghasilan.
Melainkan tambahan waktu.
Dan pada saat itu...
Baru kita mengerti...
Bahwa yang paling mahal dalam hidup...
Bukanlah sesuatu yang tidak mampu kita beli.
Melainkan...
Seseorang yang selalu menyediakan waktu untuk kita...
Ketika kita masih terlalu sibuk mengejar yang lain.

Buku Kita

Sebelum Terlambat

Sebelum Terlambat

Beli Buku
Ketika Cinta Tidak Lagi Semuda Dulu

Ketika Cinta Tidak Lagi Semuda Dulu

Beli Buku

Terima kasih telah membaca.

Lihat Semua Buku