Ada Kesalahan yang Baru Terlihat Ketika Rambut Mulai Memutih
Ada Kesalahan yang Baru Terlihat Ketika Rambut Mulai Memutih
Di laci paling bawah lemari kayu itu...
Masih tersimpan sebuah buku tabungan.
Sampul birunya mulai pudar.
Sudut-sudutnya sudah sedikit terlipat.
Namun setiap kali membukanya...
Ia selalu merasakan kepuasan yang sama.
Baris demi baris angka di dalamnya terus bertambah.
Tidak pernah sekaligus.
Sedikit demi sedikit.
Seperti hujan yang mengisi sebuah waduk.
Ia masih ingat saat pertama kali membuka rekening itu.
Gajinya belum besar.
Setiap rupiah terasa berharga.
Ia berjanji pada dirinya sendiri...
Suatu hari keluarganya akan hidup lebih baik.
Sejak saat itu...
Ia bekerja lebih keras.
Datang paling pagi.
Pulang paling malam.
Setiap bonus langsung disimpan.
Setiap kenaikan penghasilan tidak mengubah kebiasaan.
Buku tabungan itu menjadi saksi.
Bahwa semua lelahnya tidak sia-sia.
Suatu malam...
Anaknya pulang membawa selembar kertas.
"Ayah, bulan depan ada pentas di sekolah."
Ia tersenyum.
"Malam atau siang?"
"Pagi."
Ia terdiam sebentar.
Lalu berkata pelan,
"Nanti Ayah usahakan."
Hari pentas itu akhirnya tiba.
Di atas panggung...
Anaknya beberapa kali melihat ke arah bangku penonton.
Satu kursi tetap kosong.
Malamnya...
Ia pulang membawa setangkai bunga kecil yang mulai layu.
Ia berkata,
"Tidak apa-apa, Yah... tahun depan masih ada."
Ia mengangguk.
Lalu kembali menyimpan gaji bulan itu ke rekening.
Waktu terus berjalan.
Tanpa banyak suara.
Buku tabungan itu semakin tebal.
Saldonya semakin besar.
Sementara kalender di dinding...
Diam-diam terus berganti.
Bertahun-tahun kemudian...
Saat rambutnya mulai memutih...
Ia kembali membuka laci yang sama.
Buku tabungan itu masih ada.
Masih rapi.
Masih utuh.
Angka-angka di dalamnya jauh melebihi apa yang pernah ia bayangkan ketika masih muda.
Ia tersenyum.
Lama.
Lalu tanpa sengaja...
Dari sela-sela halaman buku tabungan itu...
Terjatuh selembar kertas kecil.
Tiket pentas sekolah.
Sudah kusam.
Lipatannya mulai rusak.
Di pojok bawah masih tertulis tanggal.
Tanggal yang dulu ia yakini bisa diganti dengan tahun berikutnya.
Ia memandangi tiket itu cukup lama.
Lalu menutup kembali buku tabungan tersebut.
Perlahan.
Untuk pertama kalinya...
Yang terasa berat...
Bukan angka yang pernah gagal ia kumpulkan.
Melainkan...
Satu kursi yang pernah ia biarkan kosong.
Dan tiket kecil...
Yang tetap tersimpan rapi...
Karena tidak pernah sempat digunakan.